Pages

Rabu, 11 September 2013

Kisah Supir Angkot

Pagi itu udara sangat cerah. Jalanan ramai, banyak orang hilir mudik, para pekerja kantoran dan pabrik tampak terburu-buru berangkat. Setiap angkutan umum yang melintas terlihat penuh, dengan kecepatan tinggi mengejar penumpang dan waktu.

Tak lama sebuah pemandangan menarik tampak di tepi jalan ujung sebuah gang. Seorang ibu-ibu dengan tiga anaknya berusaha menghentikan angkot yang lalu lalang. Tetapi setiap kali angkot berhenti, tak lama kemudian angkot tersebut berjalan kembali dan meninggalkan ibu dan ketiga anaknya tanpa menaiki angkot tersebut. Beberapa kali kejadian tersebut berulang.

Tidak begitu lama dari ujung jalan terlihat angkot dengan kecepatan sedang, tidak begitu penuh, dengan pengemudi seorang anak muda yang cukup bersih. Dengan sedikit ragu-ragu ibu tersebut menghentikan angkot tersebut dan terjadilah dialog singkat,

“Dik, lewat terminal ya?” tanya Ibu.

“Iya bu.” Jawab supir angkot tersebut.

Yang aneh, si ibu tidak segera naik tetapi malah berkata, “Tapi saya dan ketiga anak saya tidak punya ongkos.”

Sambil tersenyum, supir itu menjawab, “Nggak apa-apa Bu, naik saja”.

Si Ibu tampak ragu-ragu, dan supir-pun mengulangi perkataannya, “Ayo bu, naik saja, nggak apa-apa”.

Ketika sampai di terminal, empat orang penumpang gratisan ini turun. Si ibu mengucapkan terima kasih berulang-ulang kepada supir atas kebaikannya naik angkot tanpa membayar.


Setelah ibu tersebut turun, seorang penumpang pria turun juga lalu membayar dengan uang Rp.50 ribu. Ketika supir hendak memberikan kembalian ongkos, pria itu berkata bahwa uang itu untuk ongkos dirinya serta empat penumpang gratisan tadi. “Terus jadi orang baik ya, Dik” kata pria tersebut kepada sopir angkot tersebut.

Pagi itu menjadi semakin cerah dengan kebaikan-kebaikan yang baru saja terjadi. Seorang ibu miskin yang jujur, seorang supir yang baik hati di tengah jam sibuk dan jalanan yang ramai ia merelakan empat kursi penumpangnya untuk ibu dan ketiga anaknya dan seorang penumpang yang budiman. Mereka saling mendukung untuk sebuah kebaikan, tanpa sedikitpun mengeluh dan mengharap balas jasa.

Andai separuh saja bangsa kita bisa seperti ini, maka dunia akan takluk. Teruslah berbuat baik, sekecil apapun itu, tentu akan sangat berarti bagi orang lain.

 Source : kisah inspirasi

Selasa, 10 September 2013

Rajin Tahajud dan Lulus Ujian berkat Doa Ibu

Ujian Nasional (UN) sering menjadi hal menakutkan bagi para siswa, terutama mereka yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja, seperti Hartono. Meski ingin lulus, Hartono merasa tidak cukup pintar. Nilai-nilainya, terutama matematika, selalu di bawah standar. Sekuat apapun berusaha, dia merasa tetap tidak bisa. Ikut les privat pun tidak mungkin karena tidak ada biaya. Sehari-hari orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh tani.
          Tiga bulan menjelang ujian, Hartono semakin risau. Ia pun memutuskan memperkuat ibadahnya. Ia percaya, jika Allah berkehendak, pasti semuanya akan terjadi.
          Hartono berniat sholat tahajud setiap malam sampai UN berakhir. Dia meneguhkan tekad untuk bangun setiap malam. Sebelum tidur, tak lupa dirinya membaca doa untk bangun malam. Sayangnya, niatnya itu belum terlaksana. Dia sulit bangun malam. Kalaupun bangun, dia merasa takut untuk keluar. Apalagi, kamar mandinya berada di luar rumah. Untuk ke sana, dia harus melewati rumpun bambu yang terkenal menyeramkan. Hartono pun memilih tidur kembali. Setelah itu, Hartono akan menyesal di pagi harinya.
          Tak terasa, ujian nasional tinggal 3 hari lagi. Hartono semakin galau. Dia resah karena tidak percaya diri menghadapinya. Belajarnya pun tidak mengalami kemajuan. Kegalauan Hartono ditangkap sang ibu. Hartono pun menceritakan semuanya. Beliau berpesan dan berdoa untuk anaknya, “Wis,,, ojo wedi. Kowe mengko wengi sholat tahajud. Kudu wani. Kowe kan cah lanang. Ora pareng wedi. Lakokna sholat tahajud, Insya Allah kowe mbesuk luls.”
(Sudah…jangan takut. Nanti malam kamu sholat tahajud. Kamu harus berani. Kamu kan anak laki-laki. Tidak boleh takut. Jalankan sholat tahajud dan Insya Allah besok kamu lulus). Ucapan ibu tercintanya itu akhirnya membuat Hartono tenang.
          Malamnya, Hartono bermimpi buruk. Dia bermimpi bangun dan hendak sholat tahajud. Dalam mimpinya, dia keluar untuk mengambil air wudlu. Namun, saat membuka pintu untuk ke kamar mandi, pintu tersebut sulit sekali dibuka. Dengan terpaksa, pintu tersebut ia dorong. Tiba-tiba, di depan pintu ada sesosok hantu yang menyeramkan. Hartono sampai kaget dan terbangun dari tidur. Badannya basah oleh keringat. Walau demikian, dia bersyukur bahwa itu hanyalah mimpi.
          Saat itu, jam dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Hartono bimbang. Hendak tidur lagi, dirinya sudah merasa agak sulit. Ia masih kaget. Ia pun sadar bahwa inilah waktu yang tepat untuk sholat tahajud. Namun, bagaimana kalau mimpinya itu menjadi kenyataan?!
          Akhirnya, Hartono memberanikan diri untuk bangun. Ia ingat pesan ibunya. Dengan segenap keberanian dalam dirinya, ia menuju kamar mandi. Dia juga memantapkan keinginan untuk lulus dan membanggakan kedua orang tuanya. Entah mengapa, malam itu dirinya terasa begitu ringan. Walaupun agak sedikit takut, dia terus memberanikan diri. Mimpinya hanyalah mimpi, dan tidak akan menjadi kenyataan. Dia lalu membayangkan betapa sedihnya jika tidak lulus. Alhamdulillah, rasa takutnya semakin menipis. Dengan ucapan Allahu akbar yang sedikit keras, Hartono berani membuka pintu dan mengambil air wudlu. Ternyata benar, di luar tidak terjadi apa-apa. Semuanya ahanya ketakutan yang dibuat-buat.
          Selanjutnya, semua terasa begitu mudah. Hartono juga heran karena langkahnya begitu ringan untuk menjalankan sholat tahajud. Padahal, selama 3 bulan ini dia merasa sulit sekali mengalahkan rasa takut dan malas. Hartono sadar bahwa semua itu berkat doa ibunya. Rasa percaya dirinya mulai muncul.
          Sampai ujian nasional selesai, dia sanggup menjalankan sholat tahajud dengan  rutin. Bahkan, kebiasaan itu diteruskan sampai sekarang. Yang membuat dia sangat bersyukur, doa ibunya terkabul. Hartono akhirnya lulus ujian nasional. Walaupun nilainya pas-pasan, cukup untuk membuatnya diterima di STM negeri pilihannya. Sekarang dia telah bekerja di sebuah perusahaan otomotif. Sampai kini, dia tidak akan pernah lupa bahwa keberhasilannya sekarang adalah peran dari doa ibunya selama ini.

Semoga ceritanya bermanfaat ^_^

Dikutip dari buku "Mukjizat Doa Ibu"
 


Senin, 09 September 2013

Cintaku di Penjara Suci


Dikala aku terlelap dalam tidur
Walau tanpa bantal ataupun kasur
Kala aku makan dan minum
Walau dengan oyek sekalipun
Telah aku syukuri

Hidup di penjara suci adalah hidayah sang Illahi
Saat malam minggu tiba,
Dimana kaum adam & hawa memadu cinta
Disaat mereka bahagia
Dalam alunan cinta

Ku dipusingkan tuk membahas
ضَرَبَ – يَضْرِبُ – ضَرْباً
Hari-hariku hanya diperkenalkan
Utawi, iku, lan apane…
Tak sempat tau,
Arti cinta sebuah kerinduan
Bahkan kasih sayang

Memang aku santri single
Bukannya aku tak payu atau tak laku
Tapi karena niatku untuk mencari ilmu
Dan mengharap ridho guru

Ilmu adalah masa depanku
Amal sebagai cahaya hidupku
Dan surga adalah cita-citaku  :)